Suatu hari, di sebuah desa nun jauh di seberang hiduplah seekor kupu-kupu yang bijaksana. Tak hanya disukai karena tubuh dan sayapnya yang indah, si kupu-kupu juga disenangi banyak hewan karena kebaikan hati dan nasehat-nasehatnya yang berguna. Tiap kali ada kesulitan atau situasi
runyam terjadi di desa, salah satu hewan pasti akan memanggil kupu-kupu untuk membantu mereka agar menyelesaikannya.
Ketika sedang terbang di tengah hamparan bunga untuk mencari madu, kupu-kupu dihampiri oleh dua ekor tikus.
“Hai kupu-kupu yang baik, bisakah kau turun? kami ingin bicara,” ujar salah satu tikus. Mendengar seruan tikus itu, kupu-kupu pun turun dari kelopak bunga yang putiknya tengah ia hisap.
“Ada apa tikus?” tanya kupu-kupu.
“kami butuh bantuanmu, kupu-kupu…” ujar tikus yang bertubuh tambun.
“Bantuan? Bantuan apa?” Kupu-kupu mengerutkan alisnya sambil tersenyum ramah. Kedua tikus saling berpandangan, setelah terjadi jeda selama beberapa menit akhirnya salah satu tikus angkat bicara.
“Kau terkenal sebagai hewan yang paling dihormati di desa, kami harap kau mau menolong kawan kami dengan membujuknya,”
“Siapa kawanmu? Apa yang harus kubujuk darinya?” tanya Kupu-kupu dengan nada bersungguh-sungguh.
Merasa bahwa kupu-kupu benar-benar ingin membantu mereka, akhirnya berceritalah kedua tikus itu secara secara bergantian. Mereka menjelaskan bahwa salah satu kawan mereka, katak sawah tengah dalam bahaya. Dengan wajah khawatir, tikus gembul berkata bahwa sudah seminggu penuh katak sawah tidak makan. Bukan karena tak ada makanan, tetapi karena ia menolak tiap makanan yang dibawakan. Mendengar ini, kupu-kupu bertanya apa kiranya alasan katak tidak mau makan, lalu tikus yang lebih kurus menjawab bahwa mereka berdua tidak tahu alasan pastinya, tetapi ia tahu betul bahwa katak sawah mulai tidak makan sejak ia bertengkar dengan si ular.
“Hmm jadi begitu ya, baiklah kalau begitu tolong antar aku ke tempat kawan kita si katak,” setelah itu pergilah kupu-kupu menemui katak.
***
“Jadi kau dikirim oleh kawan-kawan tikusku?”
“Betul sekali, mereka khawatir karena kau sudah tidak makan berhari-hari,” jelas kupu-kupu yang saat ini sudah berada di rumah sang katak.
“begitu ya, tapi meski kau datang, aku tetap tak mau makan,” tegas katak. Tubuhnya kini terlihat jauh lebih kurus. Melihat katak yang berkeras, kupu-kupu pun bertanya, “mengapa kau tidak mau makan, katak? Bukankah tidak enak membiarkan perutmu keroncongan? “
katak menghela nafas lalu menatap kupu-kupu, “Kau bisa dengan mudah berkata begitu karena kau punya badan dan sayap yang indah. Coba lihat aku, mukaku jelek, badanku besar dan terlebih lagi, lihat lendir ini? Tidakkah kau pikir ini menjijikkan? Aku ingin punya badan indah seperti hewan lain, jadi sekarang aku sedang berdiet…”
Mendengar ini, kupu-kupu pun tersenyum, “berdiet sampai tidak makan selama ini?” katak mengangguk.
Kupu-kupu menggelengkan kepalanya, “kau tahu? Aku justru iri padamu. Kau punya badan yang kuat dan kemampuan yang hebat. Kau tak hanya bisa tinggal di air dan berenang tapi kau juga mampu memanjat pepohonan juga hidup di hutan, sedangkan kami kupu-kupu punya sayap yang mudah patah, badan yang terlalu kurus dan daya tahan yang lemah.” jelas Kupu-kupu, Katak termenung.
“Tuhan menciptakan bentuk kita bukan tanpa tujuan, lagi pula katak, rupamu tak sejelek yang kaupikirkan. Tubuh besarmu punya banyak kegunaan. Percayalah!” tambah Kupu-kupu berusaha meyakinkan.
“benarkah itu?” tanya katak dengan ekspresi berharap.
“Benar, selain itu makanan adalah anugerah dari Tuhan, kau sudah tahu bukan? Tuhan tidak akan senang melihatmu menyiksa diri dan menolak nikmat dari-Nya.”
“Oh kupu-kupu, kau benar… Tuhan akan sangat marah padaku jika aku terus seperti ini,” ujar katak pada akhirnya.
Kupu-kupu tersenyum lagi, lalu berujar “Sekarang yuk kita mencari makanan untukmu, apa yang biasanya kaumakan?” tanya Kupu-kupu.
“Mmm, aku biasa makan serangga,” jawab katak.
Mendengar ini, kupu-kupu menelan ludahnya, “Oh… gawat.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar